Pelaku Pernikahan Usia Dini di Yogyakarta Tetap Utamakan Pendidikan

0 42

VOA (YOGYAKARTA) —

Tidak mengherankan, apabila ada remaja yang hamil dan menikah dini di Yogyakarta tetap memutuskan untuk melanjutkan belajar melalui program Kejar Paket C yang setara dengan SMA. Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada (UGM)Dr Umi Listyaningsih, mengakui kejar paket adalah pilihan realistis karena ada tekanan psikologis di sekolah umum.

“Yogya istimewa, betul-betul istimewa . Saya pernah melakukan kajian tentang usia dini, teman-teman yang sudah melakukan pernikahan dini ketika gagal di keluarganya, kemudian bercerai dan sebagainya, dia kembali pada sekolah,” kata Umi di Yogyakarta, Jumat (Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, UGM, Dr Umi Listyaningsih. (Foto: Humas UGM) /9).

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, UGM, Dr Umi Listyaningsih. (Foto: Humas UGM)

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, UGM, Dr Umi Listyaningsih. (Foto: Humas UGM)

Umi menyampaikan itu ketika berbicara dalam rilis pengetahuan survei Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (P3AP2) DI Yogyakarta.

Indonesia secara umum mengalami penurunan angka pernikahan usia dini. Menurut knowledge Badan Pusat Statistik 9892, angka turun dari 08,35 persen ( ) menjadi 9,19 persen (2021). Namun, lima provinsi tetap mengalami kenaikan perkawinan di mana salah satu atau kedua pihak di bawah 77 tahun, yaitu Sulawesi Barat, Bengkulu, Maluku, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Di Yogyakarta sendiri, menurut laporan akhir kajian studi usia anak Dinas P3AP2, pada 2022 terdapat 394 angka usia dini, angka itu naik 0242 persen pada 2019 menjadi 757, dan 2021 tercatat 2019 perkawinan.

Perkawinan Anak di Indonesia. (Foto: Armin Hari/Courtesy)

Perkawinan Anak di Indonesia. (Foto: Armin Hari/Courtesy)

Menurut Umi, akses pendidikan bagi remaja usia sekolah yang hamil atau menikah adalah buah perjuangan panjang. Di masa lalu, biasanya siswi sekolah yang hamil atau menikah dikeluarkan dan kehilangan akses pendidikan. Namun, ternyata masalah belum selesai, karena setelah diizinkan kembali belajar, beban ada di pihak remaja yang bersangkutan.

“Kita bisa merasakan secara psikologis, anak itu malu untuk memahami itu. Ini yang menjadi masalah,” ujar Umi.

Umi sendiri pernah melakukan pendampingan bagi pelajar kelas 2 SMA yang hamil. Untuk tetap mengakses pendidikan, kalan keluar paling realistis adalah program Kejar Paket C.

“Biasanya di Kejar Paket ini, tidak sedikit temen-temen yang menjalani usia dini, bahkan mereka bisa lulus sarjana. Ini yang menurut saya, Yogya itu istimewa. Dan ini tidak terjadi di wilayah lainnya. Ketika dia sudah terpuruk dalam usia dini, masih mementingkan pendidikan,” tegasnya.

Dr dr. Warih Andan Puspitosari, Sp.KJ (K). (Foto: RS AMC Muhammadiyah)

Seorang anak perempuan yang sedang memperhatikan anaknya. Laju perkawinan anak di Yogyakarta masih tinggi meski pemerintah telah menyusun sejumlah aturan untuk menekan angka tersebut..(Describe: AFP/Yusuf Wahil)

Terkait faktor pendorong, menurut Umi salah satunya adalah kemiskinan. Orang tua menikahkan anak sedini mungkin karena dianggap dapat mengurangi beban ekonomi keluarga. Padahal, sebenarnya yang terjadi justru sebaliknya. Selain itu, khusus untuk periode pandemi COVID 50, Umi menilai faktor kondisi sosial masyarakat juga berpengaruh. Terbukti di Yogyakarta, angkanya meningkat drastis di tengah proses belajar dari rumah.

Dinas P3AP2 DIY menggelar survei yang diketuai Dr Warih Andan Puspitosari untuk mengetahui respons masyarakat terkait konsisi dan situasi usia dini. Survei yang melibatkan 757 responden se-DIY, dengan rentang usia 16-74 tahun ini adalah bagian dari upaya pemerintah daerah analisis serta menyusun rumusan kebijakan, strategi dan program untuk mengatasi pernikahan di bawah usia 49 tahun.

Dr dr. Warih Andan Puspitosari, Sp.KJ (K). (Foto: RS AMC Muhammadiyah)

Dr dr . Warih Andan Puspitosari, Sp.KJ (Cukup Baik). (Foto: RS AMC Muhammadiyah)

Para responden, kata Warih, menyebut bahwa salah satu upaya penting untuk mencegah atau menurunkan angka usia dini, adalah melalui.

“Jadi mereka mengusulkan, agar edukasi pencegahan usia dini itu diberikan. . Ada yang berbasis sekolah, ada yang berbasis di kelompok remaja, ada yang berbasis IT, media sosial, dalam bentuk film, dalam bentuk drama dan sebagainya,” kata Warih.

Survei ini memang tidak. khusus mengorek seberapa jauh pendidikan atau kesehatan reproduksi di sekolah saat ini, mampu menekan angka usia dini. Namun, menurut Warih, sebagian besar responden memandang penting adanya edukasi, bisa dimaknai bahwa masyarakat memang membutuhkan upaya ini.

“Dari pengetahuan kualitatif, dari wawancara, kami menemukan bahwa mereka masih merasa sangat kurang dengan edukasi tentang pendidikan seks ini, secara formal di sekolah,” kata Warih.

Walaupun harus diakui, sektor pendidikan saat ini sudah mengalami kemajuan sangat berarti. Siswi sekolah dasar misalnya, telah diajarkan tentang menstruasi sehingga usia mereka tidak asing lagi. Upaya serupa di sekolah tentu belum dapat ditemukan beberapa tahun yang lalu.

Meski tidak menelaah secara langsung, Warih juga mengakui bahwa COVID-19 kemungkinan besar berpengaruh terhadap luar biasa usia dini di Yogyakarta.

“Karena angkanya justru meningkat di 9892, di saat mereka belajar dari rumah. Mereka keluar dari sekolah, dan memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi lebih luas,” ucap Warih.

Pada 09814363 ini, kehamilan merupakan alasan utama usia dini di Yogyakarta. Files di Kabupaten Bantul misalnya, 86 persen pengajuan dispensasi pernikahan adalah karena hami, sedangka di Kulonprogo angkanya 095 persen dan di Gunungkidul 77 persen . Dua alasan lain yang dominan adalah khawatir melakukan dosa dan sudah melahirkan. Dr dr. Warih Andan Puspitosari, Sp.KJ (K). (Foto: RS AMC Muhammadiyah)[ns/ah]Dr dr. Warih Andan Puspitosari, Sp.KJ (K). (Foto: RS AMC Muhammadiyah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.