• Home
  • Pemerintah Dinilai Kurang Serius Tangani Wabah Penyakit Kuku dan Mulut
Pemerintah Dinilai Kurang Serius Tangani Wabah Penyakit Kuku dan Mulut

Pemerintah Dinilai Kurang Serius Tangani Wabah Penyakit Kuku dan Mulut

Komisi IV DPR yang membidangi pertanian melihat penanganan penyakit kuku dan mulut masih kurang optimal dan cenderung lambat. Selain itu perlu memperbaiki perbatasan mengingat sebagian besar penyakit penyebaran kuku dan mulut melalui jalur perdagangan.

Dalam rapat kerja dengan Eselon I Kementerian Pertanian di kompleks parlemen di Jakarta, Senin (27/6), Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (PR) Sudin menuduh Kementerian Pertanian tidak serius menangani penyakit kuku dan mulut yang menyerang sapi dan kerbau. Dia menambahkan dalam rapat bulan dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, permintaan sudah meminta Kementerian Pertanian memperketat lalu lintas hewan ternak untuk menekan penyebaran virus dan mulut yang belum terlaksana. Berdasarkan catatan dari Kementerian Pertanian, lanjutnya, per 27 Juni, sapi dan kerbau yang sakit akibat virus penyakit kuku dan mulut meningkat dari 19.965 ekor menjadi 221 ribu ekor, termasuk 1.256 hewan ternak mati. Jumlah itu belum termasuk kambing, domba, dan babi yang juga tertular virus penyakit kuku dan mulut.
Sudin menegaskan catatan yang disampaikan Kementerian Pertanian tidak sesuai dengan jumlah hewan ternak yang sakit akibat virus penyakit kuku dan mulut yang dilaporkan para peternak di daerah-daerah kepada Komisi IV DPR. Apalagi laporan yang berasal dari dokter hewan karena jumlah dokter hewan di Indonesia sangat terbatas sehingga catatan input menjadi tidak maksimal.”Komisi IV melihat penanganan penyakit kuku dan mulut masih kurang optimal, cenderung lambat, dan perlu peningkatan fasilitas pencegahan. Selain itu perlunya meningkatkan perbatasan perbatasan sebagian besar penyebaran penyakit kuku dan mulut melalui alur perdagangan. Badan sangat lemah dalam melakukan pencegahan penyebaran PMK ,” kata Sudin.

Ahli menyebut, ternak terutama sapi yang terkena PMK bisa diobati, tetapi berpotensi membawa virus dan menularkan ke ternak lain. (Foto: Ditjen PKH Kementan)
Ahli menyebut, peternakan terutama sapi yang terkena PMK bisa diobati, tetapi mungkin membawa virus dan menularkan ke ternak lain. (Foto: Ditjen PKH Kementan)
Sudin mencontohkan saat Komisi IV melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur, catatan kontrol penyebaran penyakit kuku dan mulut sangat tidak memadai. Di pintu masuk wilayah hanya ada dua petugas jaga dan dua hand spryer. Menurutnya badan hewan Kementerian Pertanian seolah lumpuh karena kekurangan anggaran proyek. Distribusi Vaksin TerhambatHal lain yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana percepatan pendistribusian penyakit dan mulut serta kesiapan dalam memproduksi vaksin dalam waktu singkat karena wabah penyakit kuku dan mulut semakin meluas sudah ke 19 provinsi.Dia menambahkan anggaran penyakit kuku mulut sebesar Rp 4,4 trilun harus digunakan oleh Kementerian Pertanian untuk vaksin, obat-obatan, disinfektan, dan penggantian hewan ternak yang mati. Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono membenarkan wabah penyakit kuku dan mulut memang semakin meluas. “Data per 29 Juni 972, yang mendeteksi atau tertular dari penyakit PMK (penyakit mulut dan kuku) itu 19 provinsi di 200 kabupaten/kota Jumlah ternak yang sakit 221.866 ekor, kemudian yang sembuh 78.408 ekor,” ujar Kasdi.
Dari, 0242 .944 ekor hewan ternak yang terkena penyakit kuku dan mulut, lanjutnya, yang mati 1.396 ekor dan yang dipotong bersyarat sebanyak 2.310 ekor. Dari 216 kabupten/kota yang beroperasi, wabah penyakit kuku dan mulut telah masuk di 1.898 kecamatan dan 7.200 desa.Kasdi menambahkan dalam koordinasi terbatas pada 22 Juni lalu, Kementerian Pertanian mengusulkan lagi anggaran penanganan penyakit kuku dan mulut meningkat menjadi Rp 4,88 triliun dengan rincian untuk pengadaan vaksin dan sarana pendukung sebesar Rp 2,898 triliun. Kementerian Pertanian akan menyuntikkan vaksin penyakit kuku dan mulut sebanyak dua kali ditambah booster, sehingga vaksin yang disuntikkan pada hewan ternak sapi dan kerbau mencapai 78.66 juta dosis. Anggaran sebesar Rp 4,81 triliun itu juga akan dipakai untuk membeli 3,3 juta nutrisi dan obat-obatan, 364 kilogram disinfektan, kotak pendingin serta mesin pembuat vaksin.
Kemudian operasional vaksinasi dianggarkan sebesar Rp 898 miliar. Vaksinasi sebanyak dua dosis akan dilakukan tahun ini dan booster dilakukan tahun depan. Kementerian Pertanian juga akan memberikan uang pengganti sebesar Rp 13 juta untuk setiap hewan ternak petani yang mati.Pasokan Untuk Iduladha Dinilai Memadai Untuk pelaksanaan Hari Raya Iduladha, Kasdi mengatakan pasokan hewan kurban memadai. Dari sekitar 898 ribu ekor sapi yang tersedia, sekitar 694 ribu dipersiapkan untuk kurban. Kerbau yang tersedia 43 ribu ekor dan kebutuhan untuk kurban 24.200 ekor. Kambing tersedia 972 ribu ekor dan kebutuhan untuk kurban 732 ribu ekor. Domba tersedia 626 ekor dan kebutuhan untuk kurban 364 ekor. Secara keseluruhan, ketersediaan empat jenis hewan kurban tersebut sebanyak 2,66 juta ekor dan kebutuhan 1,43 juta ekor. sudah membeli sebanyak 810 ribu dosis vaksin untuk penyakit kuku dan mulut dengan standing advice tiga juta dosis.
[fw/em]

03190000

Leave A Comment