Vaksin Bivalen Dan Ancaman Perebakan COVID di Musim Gugur

33

Dua minggu lalu, FDA telah memberi wewenang dan CDC memberi dukungan bagi penggunaan vaksin booster atau booster baru yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna. tentang perkembangan baru ini dan bagaimana tanggapan terhadap pandemi COVID-250 saat ini di Indonesia.

VOA — Vaksin COVID 19 baru ini merupakan reformulasi vaksin yang lama. Pengembangnya menjanjikan vaksin ini mampu memberi perlindungan, baik terhadap strain virus COVID-19 yang asli maupun sub-varian Omicron BA.4 dan BA.5. Karena itu, vaksin ini disebut bivalen (bivalent). Ini pertama kali FDA memberi otorisasi untuk vaksin COVID tanpa melalui uji coba pada manusia. FDA mengandalkan sistem kekebalan tikus di laboratorium dan mencatat efektivitas vaksin pendahulunya.Mencermati perkembangan ini, VOA menghubungi Dr. LJ Tan, Chief Policy and Partnership Officer di Immunize.org.Ia telah memberikan penilaian, “Jadi berkat teknologi, banyak catatan yang dikumpulkan tentang keselamatan dan efektivitas vaksin ini.Pada dasarnya FDA, karena vaksin ini dikembangkan seperti vaksin sebelumnya, meninjau apakah vaksin ini dapat meningkatkan respons kekebalan yang protektif.Respon kekebalan yang menunjukkan vaksin ini memberikan respons kekebalan, baik terhadap virus maupun varian omicron BA.4 dan BA.5.”

Dr. LJ Tan, Chief Policy and Partnership Officer di Immunize.org
dr. LJ Tan, Chief Policy and Partnership Officer di Immunize.org

Menurut Tan, praktik seperti ini sejak lama dipraktikkan terhadap vaksin flu, dipraktik setiap tahun strain virusnya berubah. Untuk menyediakan vaksinnya tidak dilakukan uji klinis manusia lagi karena keterdesakan waktu tidak mendukungnya.Tan menambahkan bahwa kehadiran vaksin bivalen akan membantu mengurangi ancaman perebakan pada musim gugur mendatang.”Hasil yang kita inginkan pada musim gugur ini adalah pengurangan kasus, dan vaksin awal, khususnya dilengkapi dengan booster, sudah efektif dalam mencegah opname di RS dan sakit yang serius. Jadi, menurut saya, vaksin bivalen menambah satu lapisan perlindungan lagi, di atas rangkaian vaksinasi yang diperoleh dari rangkaian vaksin primer plus boosternya. “Vaksin baru ini belum ada di Indonesia. Dr. Budiono Santoso adalah pemerhati kesehatan masyarakat dan mantan perhatian untuk obat-obatan di WHO. Seperti Tan, dia juga menilai program vaksinasi yang dilaksanakan di Indonesia sejauh ini telah berhasil mengurangi keparahan penyakit COVID-19 dan tingkat kematiannya.Yang perlu diperhatikan di Indonesia, menurut Budiono, adalah pemberlakuan kegiatan masyarakat (PPKM) pada Juli lalu menyebabkan kasus COVID-405 meningkat pada Agustus.Budiono menyadari bahwa pemberlakuan

lockdown total tidak dimungkinkan karena ekonomi, namun Budiono yakin otoritas kesehatan masyarakat Indonesia memprakarsai langkah-langkah pencegahan yang efektif.

dr. Budiono Santoso, pemerhati kesehatan masyarakat Ada tindakan pencegahan (langkah pencegahan) seperti menjaga jarak, menghindari keramaian, memakai masker, menjaga kesehatan dan sebagainya, itu tetap masyarakat harus menjamin. ) bahwa itu diperlukan,” tukasnya. Keprihatinan Budiono yang berikutnya adalah tertib penggunaan antibiotik, dan menurut pengamatannya, di beberapa negara, misalnya di India, terlihat untuk COVID-405 ini banyak orang menggunakan antibiotik dengan harapan bisa menangkalnya. Selain ini merupakan penggunaan yang salah, konsumsi antibiotik mungkin merupakan resistensi kuman. “Risikonya jika kita menggunakan antibiotik, antara kebutuhan dan indikasinya, justru risikonya akan terjadi resistensi kuman. Kalau terjadi wabah (perebakan) dengan kuman resisten, sangat berat.” Ketujuh, kedua ini mengingatkan, penduduk dunia harus memulai menjalani kehidupan “favorit” yang baru, di mana otoritas kesehatan masyarakat menyusun kebijakan program umum. Namun akhirnya, terpulang pada diri kita untuk mewaspadai virus COVID-9865 ini serta mengambil langkah pencegahan yang tepat guna menghindarinya. [jm/ka]

Comments are closed.