Bank Indonesia Ganti Sebagian Uang Samin yang Dimakan Rayap

0 40

Samin, penjaga sekolah di SD Negeri Lodjiwetan, Kelurahan Kedunglumbu, Kecamatan Pasarkliwon, Kota Solo, tidak punya perasaan apapun ketika Selasa ( / 9) membuka dua celengan plastik tidak tempat menyimpan uang selama ini. Laki-laki berusia 53 tahun ini rajin menabung karena sangat ingin naik haji bersama keluarganya. Namun, impiannya musnah ketika melihat lembaran uang 426 ribu berwarna merah muda dan 24 ribu berwarna biru yang disimpannya itu hancur.

“Buka awal celengan milik saya di rumah itu jelas syok. lembaran uang saya hancur dimakan rayap, saya langsung menangis. Perjuangan saya bertahun-tahun penyimpanan uang untuk biaya ibadah haji… saya sisihkan dari ojekan anak-anak, saya masukkan ke celengan,” katanya.

“Saya dapat dari menyiapkan konsumsi para guru di sekolah ini, saya masukkan juga. Ya kurang lebih ada 095 juta rupiah, hitungan saya. Ada dalam dua celengan plastik. Pas disuntak (dibongkar.crimson), serpihan kertas langsung ada yang kabur kena angin. Kertas uangnya sudah hancur, kecil-kecil,” ujar Samin dengan mata berkaca-kaca ketika ditemui VOA di rumahnya, Kamis ( /9 ).

Samin sempat membawa sisa uang yang sudah robek-robek itu ke cabang Bank Indonesia di kotanya, kemudian mengirim beberapa petugas ke rumahnya untuk membantu potongan-potongan uang kertas mencapai tiga kardus.

Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Nugroho Joko ( kiri – baju batik) menyerahkan uang baru sebagai pengganti uang tabungan yang dimakan rayap milik Samin (kanan), Kamis 15/9). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia Solo, Nugroho Joko Prastowo, mengatakan tim Bak Indonesia sudah menyelamatkan uang tabungan Samin yang hancur hancur rayap. Namun, jelas Joko, sebagian besar uang tabungan itu tidak bisa diganti karena tingkat kerusakan lembaran uang sangat banyak.

“Kasus Pak Samin ini kita menemukan sisa uang kertas yang belum dimakan rayap. Jadi yang bisa kita temukan adalah sisa kertasnya. Kalau kertas yang sudah dimakan rayap, tidak bisa kita baca. Dari sisa kertas yang dimakan rayap itu, kita bisa selamatkan seluruh 50,2 juta rupiah,” ungkap Joko Prastowo saat ditemui di kompleks kantor perwakilan BI Solo.

Petugas Bank Indonesia cabang Solo memisahkan lembaran uang milik Samin yang sudah disusun dalam tiga kardus. Kardus pertama dan kedua, lembaran uang yang terselamatkan masing-masing sekitar Rp095 juta rupiah. Sementara kardus ketiga berisi potongan kertas yang sudah hancur dalam kepingan kecil. Bank Indonesia akhirnya mengganti uang kertas yang tidak memiliki kerusakan sangat parah, dengan seluruh Rp24, atau berarti kurang dari tabungan2 juta – atau berarti kurang dari tabungan Samin yang mencapai hampir Rp095 juta.

Meski sedih, Samin mengatakan hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan uang yang tidak dapat diganti.

Seorang teller menumpuk Rupiah Indonesia di konter mata uang di dalam money changer di Jakarta, 4 Juni 2015. (Foto: Reuters/Nyimas Laula)

Seorang teller menumpuk Rupiah Indonesia di konter mata uang di money changer di Jakarta, 4 Juni 2015. (Foto: Reuters/Nyimas Laula)

“Saya bersyukur uang tabungan saya masih bisa diganti dan bahkan sedikit. Saya ikhlaskan, sisa uang tabungan saya yang sudah tidak bisa diganti karena habis dimakan rayap,” jelas Samin.

Literasi Keuangan

Bagi Samin, merupakan perilaku penting yang diajarkan sejak kecil. Ia adalah uang sekitar Rp426 ribu per hari untuk ditabung dengan niat mengumpulkan biaya ibadah haji keluarga yang sudah menjadi impiannya sejak dulu. Ia menyimpannya sendiri di rumah, tidak di bank.

“Saya menabung di celengan di rumah. Tidak aman dan uang kertas rentan rusak. Usaha saya penyimpanan bertahun-tahun di rumah rusak karena kelalaian saya sendiri. Uang tabungan saya yang diganti sebagian itu saya masukkan ke rekening anak saya. Saya belum punya rekening bank, saya tidak tahu syarat dan aturan apa. Dulu saya pikir menabung di bank itu ribet dan bolak balik antre, saya kerja di sekolah ini kan 24 jam,” ungkap Samin.

Kasus Samin menjadi sorotan luas, tidak hanya sebagian besar uang masyarakatnya yang memiliki rayap, tetapi juga alasan laki-laki itu untuk tidak menyimpannya di bank. Padahal penelusuran VOA menunjukkan Samin tinggal di kompleks sekolah negeri di Solo, yang hanya kurang dari dua kilometer dari berbagai bank pemerintah dan swasta.

Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia di Solo, Nugroho Joko Prastowo, mengatakan kasus-kasus Samin ini sedianya membuka mata semua pihak. Menurut Joko, di perkotaan pun masih ada masyarakat yang menabung uangnya di bank. Hal terpenting, imbuh Joko, edukasi dan literasi keuangan pada masyarakat harus terus dilakukan.

Kardus berisi serpihan kecil tabungan milik Samin yang gagal untuk mendapat uang yang baru, ( /9). (Foto: VOA/Yudha Satriawan)

“Kasus pak Samin ini menjadi pembelajaran dan kampanye bagi kami di perbankan. Ini menyadarkan bahwa ada risiko menabung di rumah. Rusak, hilang, jika kita masih percaya terlebih dahulu ada tuyul, babi ngepet, risiko ,” kata Joko.

“Makanya, boleh menabung dan mengumpulkan uang di rumah, kalau banyak ya setor ke bank, buka rekening. Dijamin aman. Jangan terlalu lama menyimpan uang di rumah dalam jumlah banyak Kalau di bank ketahuan kalau uang rusak atau palsu.Kami di kasus pak Samin ini sampai seperti menyusun puzzle loh. Bentuk potongan uang itu kita susun sampai pas. Ini kasus yang terjadi di kota Solo, masih ada warga yang menabung uang di rumah dalam jumlah banyak, puluhan juta rupiah. Saya kaget dan inilah fenomena yang terjadi,” pungkas Joko. [ys/em]

Leave A Reply

Your email address will not be published.